www.terasfakta.id – Setelah melalui berbagai tahap dan diskusi yang panjang, penentuan lokasi pembangunan jalan poros untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Grass Root Refinery (GRR) Tuban kini memasuki fase baru. Rapat dengar pendapat yang diadakan oleh Komisi II DPRD Tuban menjadi momen penting dalam pencarian solusi untuk persoalan ini.
Kepala Desa Sumurgeneng, Gihanto, menyampaikan kekhawatirannya mengenai dampak proyek tersebut terhadap warga desa yang masih bergantung pada jalan yang akan terpengaruh. Menurutnya, proyek ini menjadi pelajaran berharga dalam berkomunikasi dengan masyarakat demi mencapai solusi yang saling menguntungkan.
Dalam konteks ini, akses jalan yang akan terdampak menjadi perhatian utama. Masyarakat berharap pihak terkait dapat mewujudkan alternatif yang Layak dan praktis agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu.
Peran Penting Komisi II DPRD Tuban dalam Menyelesaikan Isu Pembangunan
Komisi II DPRD Tuban mengambil inisiatif untuk mendengarkan langsung aspirasi warga mengenai rencana pembangunan jalan. RDP ini dimaksudkan untuk menjembatani komunikasi antara pihak pemerintah dan masyarakat yang terdampak.
Fahmi Fikroni, Ketua Komisi II, menekankan pentingnya transparansi dan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap. Hal ini demi memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat luas.
Keterlibatan Komisi II dalam menyikapi isu ini menciptakan ruang dialog yang sangat dibutuhkan. Dengan adanya pendapat dari warga, diharapkan solusi yang berkelanjutan dapat ditemukan dengan lebih efektif.
Proyek GRR: Tantangan dan Solusi Bagi Masyarakat Sekitar
Proyek Grass Root Refinery bukanlah hal baru bagi masyarakat di sekitar Tuban. Meskipun memberikan potensi keuntungan, proyek ini juga memunculkan tantangan terkait dampak sosial dan lingkungan. Ini membuat diskusi yang dilakukan menjadi sangat relevan dan mendesak.
Gihanto juga menyoroti bahwa beberapa ruas jalan baru yang diusulkan masih berupa lahan pertanian. Oleh karena itu, kehadiran infrastruktur alternati berstatus sebagai prioritas utama yang perlu segera direalisasikan.
Tantangan ini tidak hanya untuk satu desa. Ruas jalan yang terdampak mencakup beberapa desa lainnya, seperti Wadung, Purwoharjo, dan Remen. Komitmen dari semua pihak diperlukan agar dampak negatif dapat diminimalisir.
Anggaran dan Komitmen Berkelanjutan dalam Penlok Jalan
Pihak PT Pertamina GRR Kilang Tuban telah mengalokasikan anggaran untuk proyek Penlok ini sejak tahun 2024. Sayangnya, rencana tersebut baru dapat dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya karena masih menunggu keputusan final yang belum ada.
Ferri Setyo Pambudi, Manager Land Acquisition, menekankan pentingnya komunikasi lanjutan dengan pemerintah daerah. Kolektivitas antara semua pihak sangat krusial untuk mencapai realisasi yang diinginkan.
Proses panjang ini menyoroti kebutuhan untuk mengedepankan kesepakatan yang saling menguntungkan. Fleksibilitas dan keterbukaan menjadi unsur vital dalam mencapai tujuan bersama.


